Saturday, November 5, 2011

Local Management Of School (MBS)

Jakarta, Senin 31 Oktober 2011 di ruamg 306 Gd. Daksinapati FIP UNJ berlangsung presentasi oleh kelompok 2 (Izar, Dinda, Sifanisa, Rusbiasyah). Mereka membahas tentang Local Management of School atau dalam bahasa Indonesia berarti Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Pertama dijelaskan mengenai klaim politik oleh beberapa negara seperti Inggris, Skotlandia, Australia, Selandia Baru, dan Kanada. Klaim tersebut antara lain pengambilan keputusan bahwa MBS diperlukan dalam rangka meningkatkan kualitas dan standar pendidikan yang diberikan oleh sekolah.
Ada beberapa kriteria yang digunakan sebagai penilaian dalam MBS, antara lain :
1. peningkatan efisien dalam penggunaan sumber daya sekolah
2. peningkatan efektivitas sekolah melalui peningkatan kualitas pengajaran dan pembelajaran.
3. lebih tanggap terhadap klien dan lebih memihak kepada konsumen.

Tujuan MBS adalah untuk meningkatkan kinerja sekolah melalui pemberian kewenangan dan tanggung jawab yang lebih besar kepada sekolah yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola sekolah yang baik yaitu partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas. Peningkatan kinerja sekolah yang dimaksud meliputi peningkatan kualitas, efektivitas, efesiensi, produktivitas, dan inovasi pendidikan beserta uraiannya termasuk kinerja sekolah.

Efektivitas MBS adalah proses belajar yang tinggi. Karena makin tinggi dan baik penerapan MBS disuatu sekolah maka kegiatan belajar yang dilakukan juga semakin baik. MBS juga dapat menjadi alat efektif untuk memberdayakan pengguna dalam menciptakan proses perubahan yang bermakna di bidang pendidikan dan pembelajaran (belajar mengajar).
Sekolah yang menerapkan MBS tidak dapat dipisahkan dengan karakteristik sekolah efektif (effective school), jika MBS merupakan wadah/kerangkanya, maka sekolah efektif merupakan isinya. Oleh karena itu, karakteristik MBS memuat secara inklusif elemen elemen sekolah efektif yang dikategorikan menjadi tiga prerspektif antara lain ; input, proses, dan out put. Makin baik input, proses dan out put suatu sekolah maka makin efektif dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar suatu sekolah tersebut.



Efektivitas MBS dapat dilihat dari efektivitas kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya, yang oleh Sergiovanni (1987) diidentifikasi sebagai berikut:
·   Produktivitas: bagaimana peserta didik, guru, kelompok dan sekolah pada umumnya mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
·  Efisiensi: perbandingan individu dan prestasi sekolah dengan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai prestasi tersebut.
·   Kualitas: tingkat dan kualitas usaha, tujuan, jasa, hasil, dan kemampuan yang dihasilkan oleh peserta didik dan sekolah.
·    Pertumbuhan: perbaikan kualitas kepedulian dan inovasi, tantangan dan prestasi dibandingkan dengan kondisi di masa lalu.
· Kepuasan kerja guru: bagaimana tingkat kesenangan yang dirasakan guru terhadap berbagai macam pekerjaan yang dilakukannya.
· Kepuasan peserta didik: bagaimana peserta didik merasa senang menerima pelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
· Semangat: perasaan senang guru, peserta didik dan personil sekolah lain terhadap sekolahnya, tradisi-tradisinya, tujuan-tujuannya, sehingga mereka merasa bahagia menjadi bagian atau anggota sekolah.
· Motivasi: kekuatan kecenderungan dan keinginan guru, peserta didik, dan pekerja sekolah untuk melibatkan diri dalam kegiatan atau pekerjaan sekolah. Hal tersebut bukanlah perasaan senang yang relative terhadap hasil berbagai pekerjaan sebagaimana halnya kepuasan, teyapi lebih merupakan sedia atau rela bekerja untuk mencapai tujuan pekerjaan atau sekolah.
Manfaat MBS sebagai penerapan MBS yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari penerapan MBS sebagai berikut :
1.  Memungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk mengambil keputusan yang     akan meningkatkan pembelajaran.
2.      Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting.
3.      Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran.
4.      Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah.
5.      Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah, batasan pengeluaran, dan biaya program-program sekolah.
6.      Meningkatkan motivasi guru dan mengembangkan kepemimpinan baru di semua level.

 Hambatan dalam penerapan MBS adalah adanya ketidak berminatan untuk terlibat dalam MBS, tidak efisien dalam pengambilan keputusan yang secara partisipatif, pikiran kelompok yang mmungkin berbeda sehingga menimbulkan kompromis, memerlukan keterampilan karena kemungkinan besar pihak-pihak berkepentingan belum sepenuhnya memahami dan belum memiliki keahlian tentang hakikat MBS yang sebenarnya, kebingungan atas peran dan tanggung jawab baru, kesulitan koordinasi, dan manajemen sekolah yang berhubungan dengan prestasi murid kadang menjadi hambatan tentang hasil apa yang akan dicapai.

Strategi dalam peningkatan mutu MBS antara lain :
1. menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS, yakni peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah, termasuk masyarakat dan orangtua siswa. 
2. Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis, transparan, dan akuntabel. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat.
3. Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi. Dengan kata lain, pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah, termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah.
4. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS, yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah.Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS.

Dampak MBS bagi sekolah adalah MBS menciptakan rasa tanggung jawab melalui administrasi sekolah yang lebih terbuka. Kepala sekolah, guru, dan anggota masyarakat bekerja sama dengan baik untuk membuat Rencana Pengembangan Sekolah. Sekolah memajangkan anggaran sekolah dan perhitungan dana secara terbuka pada papan sekolah. Keterbukaan ini telah meningkatkan kepercayaan, motivasi, serta dukungan orang tua dan masyarakat terhadap sekolah. Banyak sekolah yang melaporkan kenaikan sumbangan orang tua untuk menunjang sekolah. Pelaksanaan PAKEM (Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) atau Pembelajaran Kontekstual dalam MBS, mengakibatkan peningkatan kehadiran anak di sekolah, karena mereka senang belajar. 













Sumber : Kelompok 2 Manajemen Pendidikan Nasional



No comments:

Post a Comment